Wednesday, May 2, 2018

KISAH-HIKMAH SUFI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFjVemn2MrSncrUpsmf1Lbv4LQk00VqvNsJcPP-GdAsKXRfCWeZTb2XKGua96bTTMIZwo0G-6irkXAlyAX7bWxFrYgbQeGvh4_rhkceCsug7XWSfHXgmtWll_l7cfiGNQBJNJYu3OxaP3i/s320/1307Jami_al-Tawarih_yahudi.jpg

Syekh Junaid al Baghdadi, seorang sufi terkemuka, pergi ke luar kota Baghdad.
Para muridnya juga ikut dengannya. Syekh itu bertanya tentang Bahlul. Mereka menjawab,
“Ia adalah orang gila, apa yang Anda butuhkan darinya?”
Cari dia, karena aku ada perlu dengannya,” kata Syekh Junaid.
Murid-muridnya lalu mencari Bahlul dan bertemu dengannya di gurun.

Mereka lalu mengantar Syekh Junaid kepadanya.
Ketika Syekh Junaid mendekati Bahlul, ia melihat Bahlul

sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Syekh itu lalu menyapanya.
Bahlul menjawab dan bertanya padanya, “Siapakah engkau?”
“Aku adalah Junaid al Baghdadi,” kata syekh itu.
“Apakah engkau Abul Qasim?” tanya Bahlul. “Ya!”jawab syekh itu.
“Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk spiritual pada orang-orang?”

tanya Bahlul.


“Ya!” jawab sang syekh.
Apakah engkau tahu bagaimana cara makan?” tanya Bahlul.
Syekh itu lalu menjawab, “Aku mengucapkan Bismillaah (Dengan nama Allah).

Aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya di sisi kanan
dalam mulutku, dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya.
Aku mengingat Allah sambil makan. Apa pun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillaah
(Segala puji bagi Allah). Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan.
”Bahlul berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berkata, “Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia,
tetapi kau bahkan tidak tahu bagaimana cara makan!” Sambil berkata demikian, ia berjalan pergi.
Murid Syekh itu berkata, “Wahai Syekh! Ia adalah orang gila.”
Syekh itu menjawab, “Ia adalah orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya!”

Bahlul mendekati sebuah bangunan yang telah ditinggalkan, lalu ia duduk.

Syekh Junaid pun datang mendekatinya. Bahlul kemudian bertanya, “Siapakah engkau?”
“Syekh Baghdadi yang bahkan tak tahu bagaimana caranya makan,” jawab Syekh Junaid.
“Engkau tak tahu bagaimana cara makan, tetapi tahukah engkau bagaimana cara berbicara?

” tanya Bahlul.

“Ya!” jawab sang syekh.
Bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul.
Syekh itu lalu menjawab, “Aku berbicara tidak kurang, tidak lebih, dan apa adanya.

Aku tidak terlalu banyak bicara. Aku berbicara agar pendengar dapat mengerti.
Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah. Aku tidak berbicara terlalu
banyak agar orang tidak menjadi bosan. Aku memberikan perhatian atas
kedalaman pengetahuan lahir dan batin.” Kemudian ia menggambarkan apa saja yang berhubungan
dengan sikap dan etika. Lalu Bahlul berkata, “Lupakan tentang makan, karena kau pun
tak tahu bagaimana cara berbicara!”

Bahlul pun berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berjalan pergi.
Murid-muridnya berkata, “Wahai Syekh! Anda lihat, ia adalah orang gila.

Apa yang kau harapkan dari orang gila?!”
Syekh itu menjawab, “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya. Kalian tidak tahu itu.”
Ia lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya. Bahlul lalu bertanya,

“Apa yang kau inginkan dariku ? Kau, yang tidak tahu bagaimana cara makan dan berbicara,
apakah kau tahu bagaimana cara tidur?”

“Ya, aku tahu!” jawab syekh itu. “Bagaimana caramu tidur?” tanya Bahlul.
Syekh Junaid lalu menjawab, “Ketika aku selesai salat Isya dan membaca doa,

aku mengenakan pakaian tidurku.” Kemudian ia ceritakan cara-cara tidur sebagaimana
yang lazim dikemukakan oleh para ahli agama. “Ternyata kau juga tidak tahu bagaimana cara tidur!”
kata Bahlul seraya ingin bangkit. Tetapi syekh itu menahan pakaiannya dan berkata,
“Wahai Bahlul! Aku tidak tahu. Karenanya, demi Allah, ajari aku!”

Bahlul pun berkata, “Sebelumnya, engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan

dan berkata bahwa engkau tahu, maka aku menghindarimu. Sekarang, setelah
engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, aku akan mengajarkan padamu.
Ketahuilah, apa pun yang telah kau gambarkan itu adalah permasalahan sekunder.
Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan adalah bahwa kau memakan makanan halal.
Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan,
dengan seratus sikap pun, maka itu tak bermanfaat bagimu, melainkan
akan menyebabkan hatimu hitam!”

“Semoga Allah memberimu pahala yang besar,” kata sang syekh.

Bahlul lalu melanjutkan, “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara.

Dan percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi
dan pekerjaan yang sia-sia, maka apa pun yang kau nyatakan akan menjadi malapetaka bagimu.
Itulah mengapa diam adalah yang terbaik. Dan apa pun yang kau katakan tentang tidur,
itu juga bernilai sekunder. Kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan,
kecemburuan, dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan di dalamnya,
dan ingatlah Allah ketika akan tidur!”


Syekh Junaid lalu mencium tangan Bahlul dan berdoa untuknya.

Syarh dari pen-tahkik :

Anakku. Orang zaman sekarang masih ada yang beribadah tanpa memahami isi makna.

Mereka hanya mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh nenek moyangnya tanpa kemampuan memaknai.
Maka tak heran jika amal yang dilakukan, ibadah yang dilakukan, akan terasa kering.
Tidak menyerap di hati. Bahkan shalat sudah tak mampu mencegah kemungkaran.
Kenimatan beribadah sangat sulit mereka dapatkan. Dalam cerita di atas,
bahlul mencoba membeberkan beberapa kasus yang sehari-hari ditemui.
Semoga dengan cerita di atas engkau dapat memaknai setiap amal yang kau lakukan,
sehingga makan, bicara dan tidurmu menjadi cahaya. Aamiin

Alam Semesta Adalah Guru Yang Bijak

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjECq8gFmNxfX6vRazk7Lobljv8Bb1KFWQm0HbzefUTVKDrflI0ScCLOmlE9qPV_-N_7kwMCSqxlo2fYgvZlTmsB1Cem_l8zCOatUMAu1K31e42taOCUHeOrNNtxLZrmTG9BhequcuHPV9O/s320/achmad-sufi-jpg.jpg


Sebuah cerita penuh hikmah dari seorang sufi bernama Hasan. T
idak diketahui lebih jelas siapa Hasan yang dimaksud,
tetapi semoga cerita ini bisa memberikan kita pemahaman
untuk lebih memahami dan bertafakur akan lingkungan dan alam kita.

Tatkala seorang guru sufi besar Hasan, mendekati akhir masa hidupnya,

seseorang bertanya kepadanya, “Hasan, siapakah gurumu?”

Dia menjawab, “Aku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu


akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi
untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.

Pertama adalah seorang pencuri. Suatu saat aku tersesat di gurun pasir,

dan ketika aku tiba di suatu desa, karena larut malam maka semua tempat telah tutup.
Tetapi akhirnya aku menemukan seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah.
Aku bertanya kepadanya dimana aku bisa menginap dan dia berkata
“Adalah sulit untuk mencarinya pada larut malam seperti ini,
tetapi engkau bisa menginap bersamaku,
jika engkau bisa menginap bersama seorang pencuri.”

Sungguh menakjubkan pemuda ini. Aku menetap bersamanya selama satu bulan!

Dan setiap malam ia akan berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja.
Engkau beristirahatlah dan berdoa.” Ketika dia telah kembali aku bertanya
“apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab, “Tidak malam ini.
Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak.
” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia.

Ketika aku berkhalwat (mengasingkan diri) selama bertahun-tahun

dan di akhir waktu tidak terjadi apapun, begitu banyak masa dimana aku begitu putus asa,
begitu patah semangat, hingga akhirnya aku berniat untuk menghentikan semua omong kosong ini.
Dan tiba-tiba aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari.
“Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.”

Guruku yang kedua adalah seekor anjing. Tatkala aku pergi ke sungai karena haus,

seekor anjing mendekatiku dan ia juga kehausan. Pada saat ia melihat ke airnya
dan ia melihat ada ajing lainnya disana “bayangannya sendiri”,
dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh.
Tetapi karena begitu haus ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya,
ia langsung melompat ke airnya, dan hilanglah bayangannya.
Dan pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan:
ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya
dan bayangan rasa takutmu akan hilang.

Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota

dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala.
Dia sedang menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana.

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya, “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?”

Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali,
“Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala,
lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala.
Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya
sumber cahaya pada lilinnya?

Anak kecil itu tertawa, lalu menghembuskan lilinnya, dan berkata,

“Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Kemana ia perginya?
Jelaskan kepadaku!”

Egoku remuk, seluruh pengetahuanku remuk.

Pada saat itu aku menyadari kebodohanku sendiri.
Sejak saat itu aku letakkan seluruh ilmu pengetahuanku.

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru.

Tetapi bukan berarti bahwa aku bukanlah seorang murid,
aku menerima semua kehidupan sebagai guruku.
Pembelajaranku sebagai seorang murid jauh lebih besar dibandingkan dengan dirimu.
Aku mempercayai awan-awan, pohon-pohon.
Seperti itulah aku belajar dari kehidupan.
Aku tidak memiliki seorang guru karena aku memiliki jutaan guru
yang aku pelajari dari berbagai sumber.
Menjadi seorang murid adalah sebuah keharusan di jalan sufi.
Apa maksud dari menjadi seorang murid?
Maksud dari menjadi seorang murid adalah untuk belajar.
Bersedia belajar atas apa yang diajarkan oleh kehidupan.
Melalui seorang guru engkau akan memulai pembelajaranmu.

"Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang.

Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu."

No comments:

Post a Comment