Sunday, May 6, 2018

Kisah Sejarah


LAMBANG GERAKAN PITUAN PITULUNG (SI PITUNG) 
BERDASARKAN KITAB AL FATAWI

Pitung atau Pituan Pitulung adalah salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta 
yang dibentuk pada tahun 1880 Masehi oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari 
Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat Tempo Dulu. Kyai Haji Naipin adalah seorang 
yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.

PITUNG didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes 
seperti ujian terakhir  silat, ujian tarekat serta diakhiri dengan khataman Al Qur'an 
yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus 
maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, 
setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat 
dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.

Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi 
Surat Al Fatehah yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu ke 7 Pendekar ini 
selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan 
Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka ...

Diantara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik 
untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid 
yang paling dicintai KH Naipin yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma. 
Beliau Radin Muhammad Ali Nitikusuma adalah sosok yang alim dan soleh, 
pewaris silat Haji Naipin dan silat silat warisan pejuang Jayakarta. 
Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pantang kompromi dengan penjajah kafir. 
Ayahnya syahid dibunuh penghianat bangsa, harta bendanya dirampas 
dan keluarga besarnya banyak yang diburu dan difitnah. Beliau yatim sejak umur dua tahun.

Orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji'ih Nitikusuma. 
Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin 
dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Dji'ih. Sosoknya alim 
dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir.

5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya, salah satu dari mereka bahkan pernah 
membuat babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat 
di Tangerang sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam 
terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.

Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko..beberapa anggota Pitung harus 
mengalami mati syahid.  Dji'ih tertembak tahun 1899 Masehi, jenazahnya masih bisa diselamatkan. 

Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Setelah Syahid 
jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander yg menjadi :
anjing anjing penjajah" yang rela menindas saudaranya sendiri. 
Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan 
oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian 
dimakamkan di daerah Bandengan.

Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi
kisah mereka adalah kisah perlawanan kaum muslimin yang tertindas 
oleh penjajah kafir dan antek anteknya  Mereka adalah Mujahid Sejati 
yang membela agama Islam dan rakyat Jakarta, mereka bukan Perampok, 
mereka orang orang terpelajar dan juga mengerti tentang dunia politik 
yang diterapkan penjajah.

Kisah mereka tentu tidak akan pernah sesuai dengan kisah yang berasal dari penjajah kafir 
baik itu melalui koran mereka ataupun para sejarawan kolonialis yang memang bekerja 
untuk kepentingan penjajah. Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka 
tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai zimat seperti 
yang disebarkan beritanya oleh Belanda kalau Pitung Sakti mandraguna
Semua anggota Pitung hanya diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama 
seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, Ilmu Alat.

PITUAN PITULUNG....1 untuk 7....7 untuk 1
Disarikan dari KITAB AL FATAWI yang dtulis ulang dalam bahasa 
arab melayu oleh Al Allamah Asy-Syekh KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i (Kong Syari) 
tahun 1910 Masehi di Jakarta

Wednesday, May 2, 2018

KISAH-HIKMAH SUFI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFjVemn2MrSncrUpsmf1Lbv4LQk00VqvNsJcPP-GdAsKXRfCWeZTb2XKGua96bTTMIZwo0G-6irkXAlyAX7bWxFrYgbQeGvh4_rhkceCsug7XWSfHXgmtWll_l7cfiGNQBJNJYu3OxaP3i/s320/1307Jami_al-Tawarih_yahudi.jpg

Syekh Junaid al Baghdadi, seorang sufi terkemuka, pergi ke luar kota Baghdad.
Para muridnya juga ikut dengannya. Syekh itu bertanya tentang Bahlul. Mereka menjawab,
“Ia adalah orang gila, apa yang Anda butuhkan darinya?”
Cari dia, karena aku ada perlu dengannya,” kata Syekh Junaid.
Murid-muridnya lalu mencari Bahlul dan bertemu dengannya di gurun.

Mereka lalu mengantar Syekh Junaid kepadanya.
Ketika Syekh Junaid mendekati Bahlul, ia melihat Bahlul

sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Syekh itu lalu menyapanya.
Bahlul menjawab dan bertanya padanya, “Siapakah engkau?”
“Aku adalah Junaid al Baghdadi,” kata syekh itu.
“Apakah engkau Abul Qasim?” tanya Bahlul. “Ya!”jawab syekh itu.
“Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk spiritual pada orang-orang?”

tanya Bahlul.


“Ya!” jawab sang syekh.
Apakah engkau tahu bagaimana cara makan?” tanya Bahlul.
Syekh itu lalu menjawab, “Aku mengucapkan Bismillaah (Dengan nama Allah).

Aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya di sisi kanan
dalam mulutku, dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya.
Aku mengingat Allah sambil makan. Apa pun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillaah
(Segala puji bagi Allah). Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan.
”Bahlul berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berkata, “Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia,
tetapi kau bahkan tidak tahu bagaimana cara makan!” Sambil berkata demikian, ia berjalan pergi.
Murid Syekh itu berkata, “Wahai Syekh! Ia adalah orang gila.”
Syekh itu menjawab, “Ia adalah orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya!”

Bahlul mendekati sebuah bangunan yang telah ditinggalkan, lalu ia duduk.

Syekh Junaid pun datang mendekatinya. Bahlul kemudian bertanya, “Siapakah engkau?”
“Syekh Baghdadi yang bahkan tak tahu bagaimana caranya makan,” jawab Syekh Junaid.
“Engkau tak tahu bagaimana cara makan, tetapi tahukah engkau bagaimana cara berbicara?

” tanya Bahlul.

“Ya!” jawab sang syekh.
Bagaimana cara berbicara?” tanya Bahlul.
Syekh itu lalu menjawab, “Aku berbicara tidak kurang, tidak lebih, dan apa adanya.

Aku tidak terlalu banyak bicara. Aku berbicara agar pendengar dapat mengerti.
Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah. Aku tidak berbicara terlalu
banyak agar orang tidak menjadi bosan. Aku memberikan perhatian atas
kedalaman pengetahuan lahir dan batin.” Kemudian ia menggambarkan apa saja yang berhubungan
dengan sikap dan etika. Lalu Bahlul berkata, “Lupakan tentang makan, karena kau pun
tak tahu bagaimana cara berbicara!”

Bahlul pun berdiri, menyibakkan pakaiannya, dan berjalan pergi.
Murid-muridnya berkata, “Wahai Syekh! Anda lihat, ia adalah orang gila.

Apa yang kau harapkan dari orang gila?!”
Syekh itu menjawab, “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya. Kalian tidak tahu itu.”
Ia lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya. Bahlul lalu bertanya,

“Apa yang kau inginkan dariku ? Kau, yang tidak tahu bagaimana cara makan dan berbicara,
apakah kau tahu bagaimana cara tidur?”

“Ya, aku tahu!” jawab syekh itu. “Bagaimana caramu tidur?” tanya Bahlul.
Syekh Junaid lalu menjawab, “Ketika aku selesai salat Isya dan membaca doa,

aku mengenakan pakaian tidurku.” Kemudian ia ceritakan cara-cara tidur sebagaimana
yang lazim dikemukakan oleh para ahli agama. “Ternyata kau juga tidak tahu bagaimana cara tidur!”
kata Bahlul seraya ingin bangkit. Tetapi syekh itu menahan pakaiannya dan berkata,
“Wahai Bahlul! Aku tidak tahu. Karenanya, demi Allah, ajari aku!”

Bahlul pun berkata, “Sebelumnya, engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan

dan berkata bahwa engkau tahu, maka aku menghindarimu. Sekarang, setelah
engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, aku akan mengajarkan padamu.
Ketahuilah, apa pun yang telah kau gambarkan itu adalah permasalahan sekunder.
Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan adalah bahwa kau memakan makanan halal.
Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan,
dengan seratus sikap pun, maka itu tak bermanfaat bagimu, melainkan
akan menyebabkan hatimu hitam!”

“Semoga Allah memberimu pahala yang besar,” kata sang syekh.

Bahlul lalu melanjutkan, “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara.

Dan percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi
dan pekerjaan yang sia-sia, maka apa pun yang kau nyatakan akan menjadi malapetaka bagimu.
Itulah mengapa diam adalah yang terbaik. Dan apa pun yang kau katakan tentang tidur,
itu juga bernilai sekunder. Kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan,
kecemburuan, dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan di dalamnya,
dan ingatlah Allah ketika akan tidur!”


Syekh Junaid lalu mencium tangan Bahlul dan berdoa untuknya.

Syarh dari pen-tahkik :

Anakku. Orang zaman sekarang masih ada yang beribadah tanpa memahami isi makna.

Mereka hanya mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh nenek moyangnya tanpa kemampuan memaknai.
Maka tak heran jika amal yang dilakukan, ibadah yang dilakukan, akan terasa kering.
Tidak menyerap di hati. Bahkan shalat sudah tak mampu mencegah kemungkaran.
Kenimatan beribadah sangat sulit mereka dapatkan. Dalam cerita di atas,
bahlul mencoba membeberkan beberapa kasus yang sehari-hari ditemui.
Semoga dengan cerita di atas engkau dapat memaknai setiap amal yang kau lakukan,
sehingga makan, bicara dan tidurmu menjadi cahaya. Aamiin

Alam Semesta Adalah Guru Yang Bijak

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjECq8gFmNxfX6vRazk7Lobljv8Bb1KFWQm0HbzefUTVKDrflI0ScCLOmlE9qPV_-N_7kwMCSqxlo2fYgvZlTmsB1Cem_l8zCOatUMAu1K31e42taOCUHeOrNNtxLZrmTG9BhequcuHPV9O/s320/achmad-sufi-jpg.jpg


Sebuah cerita penuh hikmah dari seorang sufi bernama Hasan. T
idak diketahui lebih jelas siapa Hasan yang dimaksud,
tetapi semoga cerita ini bisa memberikan kita pemahaman
untuk lebih memahami dan bertafakur akan lingkungan dan alam kita.

Tatkala seorang guru sufi besar Hasan, mendekati akhir masa hidupnya,

seseorang bertanya kepadanya, “Hasan, siapakah gurumu?”

Dia menjawab, “Aku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu


akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi
untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.

Pertama adalah seorang pencuri. Suatu saat aku tersesat di gurun pasir,

dan ketika aku tiba di suatu desa, karena larut malam maka semua tempat telah tutup.
Tetapi akhirnya aku menemukan seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah.
Aku bertanya kepadanya dimana aku bisa menginap dan dia berkata
“Adalah sulit untuk mencarinya pada larut malam seperti ini,
tetapi engkau bisa menginap bersamaku,
jika engkau bisa menginap bersama seorang pencuri.”

Sungguh menakjubkan pemuda ini. Aku menetap bersamanya selama satu bulan!

Dan setiap malam ia akan berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja.
Engkau beristirahatlah dan berdoa.” Ketika dia telah kembali aku bertanya
“apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab, “Tidak malam ini.
Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak.
” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia.

Ketika aku berkhalwat (mengasingkan diri) selama bertahun-tahun

dan di akhir waktu tidak terjadi apapun, begitu banyak masa dimana aku begitu putus asa,
begitu patah semangat, hingga akhirnya aku berniat untuk menghentikan semua omong kosong ini.
Dan tiba-tiba aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari.
“Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.”

Guruku yang kedua adalah seekor anjing. Tatkala aku pergi ke sungai karena haus,

seekor anjing mendekatiku dan ia juga kehausan. Pada saat ia melihat ke airnya
dan ia melihat ada ajing lainnya disana “bayangannya sendiri”,
dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh.
Tetapi karena begitu haus ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya,
ia langsung melompat ke airnya, dan hilanglah bayangannya.
Dan pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan:
ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya
dan bayangan rasa takutmu akan hilang.

Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota

dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala.
Dia sedang menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana.

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya, “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?”

Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali,
“Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala,
lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala.
Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya
sumber cahaya pada lilinnya?

Anak kecil itu tertawa, lalu menghembuskan lilinnya, dan berkata,

“Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Kemana ia perginya?
Jelaskan kepadaku!”

Egoku remuk, seluruh pengetahuanku remuk.

Pada saat itu aku menyadari kebodohanku sendiri.
Sejak saat itu aku letakkan seluruh ilmu pengetahuanku.

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru.

Tetapi bukan berarti bahwa aku bukanlah seorang murid,
aku menerima semua kehidupan sebagai guruku.
Pembelajaranku sebagai seorang murid jauh lebih besar dibandingkan dengan dirimu.
Aku mempercayai awan-awan, pohon-pohon.
Seperti itulah aku belajar dari kehidupan.
Aku tidak memiliki seorang guru karena aku memiliki jutaan guru
yang aku pelajari dari berbagai sumber.
Menjadi seorang murid adalah sebuah keharusan di jalan sufi.
Apa maksud dari menjadi seorang murid?
Maksud dari menjadi seorang murid adalah untuk belajar.
Bersedia belajar atas apa yang diajarkan oleh kehidupan.
Melalui seorang guru engkau akan memulai pembelajaranmu.

"Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang.

Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu."

Tuesday, May 1, 2018

KALAM AWLIYA



IBRAHIM BIN AD-HAM RAJA TANPA TAHTA
Oleh: حبيب محمد علي العطاس

Di atas jalan yang tak berujung, di bawah langit yang tak bertepi. Lelaki gagah berani itu memulai pengembaraannya, memasuki labirin kehidupan demi setitik asa, mengharap ampunanNya, mengharap keridhoaanNya. Buliran air mata bagai permata putih, satu persatu berjatuhan, dengan segenap rasa di jiwa, dengan setumpuk dosa yang melekat di dada, mengalir membasahi setiap langkah-langkahnya yang tak pernah lelah. Rangkaian doa-doa itu dibacanya dengan penuh kedalaman jiwa.

Ia seorang pangeran yang meninggalkan kerajaannya dan berkelana untuk menjalani kehidupan barunya dalam kesahajaan. Ia memperoleh makanannya di Suriah dari hasil kerja keras yang jujur hingga wafatnya pada tahun 165 H/782 M. Sejumlah catatan menyatakan bahwa ia syahid dalam sebuah ekspedisi laut menaklukkan Byzantium.

Awalnya, dia adalah seorang Raja Besar, ‘Jihan Padishah’. Padishah, salah satu Sultan terkaya dan seluruh dunia berada di bawah kekuasaannya. Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, dia pun bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana ia selalu dikawal 80 orang pengawal yang selalu mengiringi di depan dan di belakangnya. Untuk menjaga kawanan dombanya saja, dia menempatkan 12.000 ekor anjing dan setiap ekor anjing disematkan satu kalung emas! Jadi bisa dibayangkan berapa banyak kawanan domba yang dia miliki? Dan dia juga memiliki ketertarikan lain sebagai hobbinya yaitu berburu.Malam kian larut di kota Arkian persis pada pergantian bulan. Di langit tidak tampak sepotong bulan. Hanya ada kerlipan bintang yang menyebar. Dingin tak jua menepi, sementara rasa kantuk menguasai seluruh penduduk kota tidak terkecuali penghuni istana. Namun tiba-tiba suara gaduh memecah kesunyian menyusul suara orang berlari terbirit-birit di atas kubah istana.

Istana megah yang dihuni seorang Sultan di negeri Balkh itu, heboh! Ibrahim bin Adham mendengar di atas loteng kamarnya ada seseorang yang reseh mencari sesuatu. Aksi orang itu terbilang nekat karena istana dalam pengawalan yang ketat. Tidak kurang dari 80 orang pengawal, 40 orang berada di depan dan 40 orang berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas.

Ibrahim pun menegur orang yang berani mengganggu keasyikan tidurnya itu. Sebagai seorang raja muda, ia sangat terganggu oleh suara berisik itu, maka secara spontan ia berteriak, ”Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Ibrahim bin Adham. Sang pengganggu menjawab enteng, ”Sedang mencari ontaku yang hilang!” Mendengar jawaban itu, nyaris Ibrahim bin Adham naik pitam. ”Bodoh, di mana akalmu?” katanya membentak. ”Mana mungkin kau menemukan onta di atas loteng.”

Tanpa diduga sang pengganggu menjawab lebih seenaknya: ”Begitu juga kau, mana mungkin engkau menemukan Tuhan di istana dengan berpakaian sutera dan tidur di alas tilam emas!”

Mendengar jawaban singkat yang amat tenang itu, Ibrahim bin Adham kemudian terdiam. Kata-kata asing dari langit-langit istananya itu sungguh menyentuh nuraninya; suaranya mantap, kalimatnya jelas dan logikanya sangat kuat, sehingga keseluruhan kata-kata itu menjadi sangat berwibawa dan menggelitik jiwanya. Kata-kata ini sangat menggetarkan hati Ibrahim. Kejadian itu membuatnya sangat gelisah dan tidak dapat meneruskan tidurnya hingga fajar datang.

Seperti kebiasaannya, menjelang siang Ibrahim berada di atas singgasananya untuk mendengar pengaduan dan masalah rakyat jelata. Tetapi hari itu keadaannya berlainan, dirinya gelisah dan banyak termenung. Para menteri kerajaan berdiri di tempat mereka masing-masing; budak-budaknya berdiri berjajar berhimpitan. Semua warga istana hadir.

Tiba-tiba, seorang lelaki dengan raut wajah yang sangat buruk memasuki ruangan, sangat buruk untuk dilihat sehingga tak ada seorang pun dari para pejabat dan pelayan kerajaan yang berani menanyakan namanya; lidah-lidah mereka tertahan di tenggorokan. Lelaki ini mendekat dengan khidmat ke singgasana.

“Apa maumu” tanya Ibrahim.
“Aku baru saja tiba di penginapan ini,” ujar lelaki itu.
“Ini bukan penginapan. Ini istanaku. Kau gila,” teriak Ibrahim.
“Siapa yang memiliki istana ini sebelummu?” tanya lelaki itu.
“Ayahku,” jawab Ibrahim.
“Dan sebelumnya?”
“Kakekku?”
“Dan sebelumnya?”
“Buyutku.”
“Dan sebelumnya?”
“Ayah dari buyutku.”
“Ke mana mereka semua pergi?” tanya lelaki itu.
“Mereka telah tiada. Mereka telah meninggal dunia,” jawab Ibrahim.
“Lalu, apa lagi namanya tempat ini kalau bukan penginapan, di mana seseorang masuk dan yang lainnya pergi?”

Setelah berkata begitu, lelaki asing itu pun menghilang. Ia adalah Nabi Khidhr as. Api berkobar semakin dahsyat di dalam jiwa Ibrahim, dan seketika kesedihan menatap dalam hatinya.

Kedua kejadian itu, di malam dan siang hari, sama-sama misterius dan tidak dapat dijelaskan oleh akal. Karena tidak menemukan jawabannya, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya untuk berburu ke hutan, dengan harapan beban di kepalanya sedikit berkurang. Akhirnya Ibrahim berkata, “Pasang pelana kudaku. Aku akan pergi berburu. Aku tidak tahu apa yang telah kualami hari ini. Ya Tuhan, bagaimana ini akan berakhir?”

Ibrahim bin Adham (إبراهيم بن ادھم) dan rombongan terus melintasi padang pasir yang luas sejauh mata memandang. Dia memacu kudanya dengan cepat sehingga sepertinya ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Dalam keadaan bingung, ia terpisah dari para Pengawalnya. Dalam mencari jalan keluar dia melihat seekor rusa. Ibrahim segera memburu rusa itu. Belum sempat berbuat apa-apa rusa itu berbicara kepadanya:

“Ibrahim, kamu tidak diciptakan untuk bersenang-senang Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami (untuk diadili)?(Al Qur’an Surat Al-Mu’minun 23:115). Takutlah pada Allah dan persiapkan dirimu untuk menghadapi kematian.”

Ibrahim yang masih dalam ketakutan itu tiba-tiba terkejut dengan kata-kata itu. Dia langsung sadar dan berfikir selama ini untuk apa dirinya diciptakan Allah ke dunia. Sekarang keyakinan serta keimanannya telah tertanam di dalam dadanya. Seluruh pakaian dan tubuh kudanya basah oleh cucuran air mata penyesalannya selama ini. Dengan sepenuh hati Ibrahim bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dalam keadaan panas terik itu, Ibrahim melepaskan kudanya dan memutuskan untuk berjalan kaki. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang penggembala yang sedang menjaga sekumpulan kambing-kambingnya. Gembala itu mengenakan pakaian dan penutup kepala yang terbuat dari bulu hewan. Ibrahim melihat lebih dekat, dan menyadari bahwa gembala itu adalah budaknya.

Tanpa pikir panjang Ibrahim menanggalkan apa yang selama ini dikenakannya dan memberikan kepada gembala itu, berupa jubah yang bersulam emas dan mahkota yang bertahtakan permata, sekaligus dengan domba-dombanya. Sedangkan Ibrahim berganti mengenakan pakaian kasar dan penutup kepala budak itu. Dan tanpa riskan Ibrahim sendiri mengenakan pakaian yang sehari-harinya dikenakan si penggembala kambing itu.

Ibrahim bin Adham meninggalkan kerajaan beserta istananya yang mewah karena rasa bersalah dan malu menyadari masih ada rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan, namun pencerahan itu membuat ia menikmati manisnya iman walau pakaiannya kini adalah kulit domba alih-alih sutra China, tidurnya kini berbantalkan akar pohon yang tak lagi bulu angsa berlapis beludru. Begitulah Ibrahim menukar kerajaan beserta isinya untuk sebuah kenikmatan iman.

Dengan berjalan kaki Ibrahim mengembara melintasi gunung dan menyusuri padang pasir yang luas sambil mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Akhirnya sampailah dia di sebuah gua. Ibrahim yang dulunya seorang raja yang hebat akhirnya menyendiri dan berkhalwat di dalam gua selama sembilan tahun.

Selama di dalam gua itulah Ibrahim betul-betul mengabdikan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Setiap hari Kamis dia pergi ke kota Nishafur untuk menjual kayubakar. Setelah shalat Jumat Ibrahim pergi membeli roti dengan uang yang diperolehnya tadi. Roti itu separuh diberikan kepada pengemis dan separuh lagi untuk berbuka puasa. Demikianlah yang dilakukannya setiap minggu.

Akhirnya Ibrahim memutusan untuk keluar dari gua tersebut dan mengembara lagi melintasi padang pasir yang luas itu. Dia tidak tahu lagi ke mana hendak dituju. Setiap kali berhenti di sebuah perkampungan, dikumpulkanlah orang-orang setempat untuk memberitahu betapa kebesaran Allah terhadap hambaNya dan azab yang akan diterima oleh siapapun yang mengingkarinya. Justeru itu banyaklah orang yang akrab dengannya bahkan ada yang menjadi muridnya.

Pengembaraan melintas padang pasir itu dilakukannya empat belas tahun lamanya. Selama itu pula dia berdoa dan merendahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nama Ibrahim mulai disebut-sebut orang; dari seorang raja berubah menjadi seorang ahli sufi yang rendah hati.
Pernah dalam perjalanannya dia diuji. Disebabkan kewara’annya itu ada seorang kaya raya datang menemuinya untuk mengambil tabarruk atas dirinya dengan memberi sejumlah uang yang sangat banyak. “Terimalah uang ini, semoga berkah”, katanya kepada Ibrahim.

“Aku tidak mau menerima sesuatupun dari pengemis”, jawab Ibrahim.

“Tetapi aku adalah seorang yang kaya raya”, sergah orang kaya itu.

“Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar dari apa yang telah engkau miliki sekarang ini?” tanya Ibrahim.

“Ya, kenapa tidak?” Jawabnya ringkas.

“Simpanlah uang ini kembali, bagiku engkau tidak lebih dari ketua para pengemis. Bahkan engkau bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat fakir dan peminta-minta.” Tegur Ibrahim.

Kata-kata Ibrahim itu membuat orang kaya itu tersentak seketika. Penolakan pemberiannya oleh Ibrahim disertai dengan kata-kata yang sinis lagi pedas itu turut meninggalkan kesan yang mendalam kepada dirinya. Dengan peristiwa tersebut orang kaya itu bersyukur kepada Allah karena pertemuan dengan Ibrahim itu membuat dirinya sadar akan tipu daya dunia ini. Merasa lalai dengan nafsu yang tidak pernah cukup dari apa yang perolehnya selama ini.

Suatu ketika Ibrahim bin Adham sedang menjahit jubah buruknya di tepi sungai Tigris kemudian dia ditanya oleh sahabatnya, “Engkau telah meninggalkan kemewahan istana dari kerajaanmu yang besar. Tetapi apakah yang engkau dapatkan dari semua yang engkau jalani selama ini?”

Disebabkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu keluar dari mulut sahabatnya sendiri maka dengan tiba-tiba jarum di tangannya terjatuh ke dalam sungai itu. Sambil menunjuk jarinya ke sungai, Ibrahim berkata, “Kembalikanlah jarumku!”

Tiba-tiba seribu ekor ikan mendongakkan kepalanya ke permukaan air. Masing-masing ikan itu membawa sebatang jarum emas di mulutnya. Ibrahim berkata: “Aku inginkan jarumku sendiri.”

Seekor ikan kecil yang lemah datang mengantarkan jarum besi kepunyaan Ibrahim di mulutnya.
“Jarum ini adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang aku peroleh, karena meninggalkan kerajaan Balkh. Sedangkan yang lainnya belum tentu untuk kita, semoga engkau mengerti.” Kata Ibrahim Adham dengan penuh kiasan.

Ibrahim bin Adham terkenal juga memiliki semangat ukhuwah yang tinggi. Hal ini dinyatakan oleh Sahl bin Ibrahim sebagai pernah mengatakan, “Aku berteman dengan Ibrahim bin Adham, lantas aku sakit. Ia memberikan nafkahnya untuk diriku. Suatu saat aku ingin sekali akan sesuatu, lantas Ibrahim menjual kudanya, dan uangnya diberikan kepadaku. Ketika aku ingin minta penjelasan, ‘Hai Ibrahim, mana kudanya?’ Ia menjawab, ‘Sudah kujual!’ Kukatakan, “Lantas aku naik apa?’ Dijawabnya, ‘Saudaraku, engkau naik di atas leherku.’ Dan benar, sepanjang tiga pos ia menggendongku.”

Pada kesempatan lain Ibrahim bin Adham ditemui oleh khalifah pada masa itu. Khalifah tertarik untuk bertemu dengan Ibrahim bin Adham, karena ketakwaannya. Untuk menguji kebenaran berita itu, Sang Amir (khalifah) menemui Ibrahim bin Adham di masjid.

“Ya Ibrahim, kau kenal aku kan? Aku seorang Amir, apa yang ingin kau minta dariku?” Khalifah membujuk

“Bagaimana aku berani meminta kepadamu, aku malu meminta kepadamu, karena aku sedang berada di rumahNya.” Ibrahim mencoba mengelak.

Sesaat ketika khalifah dan Ibrahim berada di luar masjid, khalifah mengulangi lagi permintaannya,”Nah Ibrahim, sekarang kita telah berada di luar rumah Allah, apa yang ingin kau minta dariku?”

“Aku boleh meminta kepadamu tentang dunia atau akhirat?” pinta Ibrahim

“Tentunya dunia wahai Ibrahim, karena aku tak memiliki akhirat.” Khalifah terperangah atas permintaan Ibrahim.

Ibrahim berpikir sejenak, lalu merespon permintaan khalifah, yang akan mencerminkan ketakwaannya.

“Maaf tuan, kepada yang “Maha Memiliki” dunia saja aku takut untuk meminta dunia, bagaimana aku minta dunia, kepada yang “tak memiliki” dunia??”

Begitulah kehidupan Abu Ishaq–nama panggilannya–Kakeknya dahulu adalah penguasa Khurasan, dan ayahnya pernah menjadi salah satu dari raja Khurasan. Otomatis, Ibrahim mewarisi kerajaan itu. Dia pun seorang Tabi’in yang terkenal. Dia pernah bertemu dengan beberapa dari sahabat Rasulullah SAW dan meriwayatkan hadits-hadits setelah mereka. Dia sangat lancar berbahasa Arab fushkhah. Nama lengkapnya Abu Ishaq Ibrahim bin Adham bin Mansur bin Yazid bin Jabir Al-Ajly At-Tamimi. Ia mewarisi kekayaan dan hidup di dalam kemewahan, tetapi akhirnya berkelana selama dua puluh tahun, kemudian dikenal sebagai ulama besar yang bermukim di Makkah, menjadi murid Sufyan ats-Tsaury dan al Fudhail bin ‘Iyadh.

Imam Junayd al Baghdadi ra berkata tentangnya, “Ibrahim adalah kunci ilmu pengetahuan” dan dia sangat dihormati, oleh semua orang yang memiliki ilmu pengetahuan, untuk kehidupannya yang patut dicontoh dan ketajaman kebijakannya kepada seluruh manusia”.

Ibrahim bin Adham meninggal di salah satu pulau yang terletak di laut Mediterania dalam sebuah ekspedisi jihad menaklukkan Byzantium. Diriwayatkan pada malam sebelum wafatnya, beliau pergi ke kamar kecil sebanyak dua puluh kali. Dia juga selalu memperbaharui wudhunya setiap selesai berhajat karena ketika itu ia sedang menderita sakit perut. Kemudian, ketika sedang sakaratul maut, Ibrahim berkata, “Berikan aku panah!,” Para sahabatnya lantas memberi Ibrahim panah, kemudian ia memegang panah tersebut namun saat bersamaan datanglah malaikat Izrail menjemput sedang dia ingin melemparkan panah itu ke pihak musuh.

Dengan begitu, beliau meninggal sebagai syuhada karena sakit perut saat sedang berjihad bersama para tentara lainnya di jalan Allah. Allah swt merahmati hamba shaleh ini yang telah menyiapkan kematiannya dengan sebaik-baiknya maka ketika kematian menjemputnya ia pun menyambutnya dengan hati gembira karena ingin bertemu dengan Tuhannya. Semoga Allah merahmati dan memuliakan kedudukannya. Wallahu a’lam

(Al Mihrab)