Wednesday, August 9, 2017

Kalam Awliya



Cinta Kepada Mursid Sejati
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani an-Naqshbandi qs

Bismillahir Rohmanir Rohim


Suatu ketika seorang anak muda datang kepada Syaikh, “Maulana, Saya bingung berilah saya rasa damai. Beberapa waktu yang lalu, saya jatuh cinta kepada seorang gadis, dan kami sempat memutuskan untuk menikah. Tetapi di lain pihak, dia menemukan pria lain yang dia suka dan malah akhirnya merekalah yang menikah! Saya sangat menderita akibat hal ini, tak tahan rasa sakitnya.” Lalu Syaikh menjawab, “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Temui gadis lain dan nikahi dia.”

Si anak muda menjawab, “Usul yang baik, Syaikh! Tetapi pikiran saya selalu terbersit oleh kenangan akan gadis itu dan jikalau saya mencoba jutaan kali, saya tidak bisa melupakannya.” Syaikh bertanya, “Mengapa kamu sampai mengingatnya seperti demikian?” Anak muda itu menjawab, “Sebenarnya bukan saya sengaja melakukannya, tetapi selalu saja hal itu datang ke
ingatanku Syaikh. Selalu saja bayangannya melewati nuansa pikiran ini.

Nah bukankah hal ini sangat luar biasa? Si anak muda tidaklah sampai menyembah gadis itu; tidak pernah menerima formulasi wirid dari gadis itu yang memuat nama-nama atribut sang gadis. Inilah konsekuensi dari Cinta dan kebersamaan. Ketika meletakkan seseorang di kalbu dengan rasa cinta (mahabbah), kita tidak akan mampu untuk menghilangkannya. Inilah buahnya muraqaba. Lalu mengapa kita tidak melakukan hal tersebut terhadap Syaikh atau guru kita? Sang Syaikh hanya memerlukan satu kali untuk memasuki kalbu dan pikiran kita, lalu akan terus bersemayam di dalamnya terutama setelah mahabbah, kita pun berkonjugasi dengannya.

Jangan berpikir bahwa para Sufi dapat menerima pandangan yang mengatakan bahwa Sufisme bertentangan dengan syari’at? Ini tidak pernah menjadi masalah, dan tidak akan menjadi masalah. Dari Rasulullah saw, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra, Sayyidina ‘Ali ra dan seluruh guru Sufi, semuanya menghormati dan menjaga syari’at sepenuhnya. Yang kami maksud adalah guru Sufi sejati, bukan anak-anak yang memproklamirkan dirinya sebagai guru Sufi dan membawa seluruh khuza’balat, ide-ide bodoh dan omong kosong diberikan kepada sufisme. Apakah Sufisme seperti ini? Sufisme berarti bahwa kalian tidak mengangkat kepalamu dari
posisi sujud.

Kalian lihat mereka yang mengaku guru sufi, mereka tidak memelihara janggut, tidak memakai turban, tidak memperhatikan sunnah Rasulullah saw, dan tetap mengaku sebagai guru Sufi dan berbicara mengenai Jalaluddin ar-Rumi atau Muhyiddin ibnu al-‘Arabi, atau Abu Yazid al-Bistami . Abu Yazid al-Bistami, Muhyiddin ibnu al-‘Arabi dan Jalaluddin ar-Rumi menyangkal mereka! Para Awliya ini tidak menerima mereka karena mereka akan bertentangan dengan syari’at.

Guru Sufi yang palsu bahkan mengaku bahwa kita tidak perlu berwudhu. Bagaimana mungkin wudhu tidak diperlukan? Salah satu Nama Rasulullah saw adalah Nabi dari “orang-orang yang bercahaya", al-ghurr al-mujjalin. “Orang pertama yang akan kupanggil menghadapku untuk masuk ke dalam surga dan bertemu dengan Allah di surga dan tetap bersamaku adalah mereka yang anggota tubuhnya bercahaya seperti cahaya matahari karena dibasuh dengan wudhu” (Bukhari-Muslim). Setiap orang di antara kalian yang selalu menjaga wudhunya akan termasuk orang-orang yang beruntung itu.

Ketika Abu Huraira ra ditanya mengapa beliau membasuh anggota tubuhnya dengan air melebihi yang diperlukan, beliau menjawab bahwa beliau ingin seluruh anggota tubuhnya bersinar pada hari itu. Lalu bagaimana mungkin orang yang mengaku Sufi berkata bahwa wudhu tidak diperlukan?

Mereka mengaku bahwa mereka melakukan wudhu dengan cara menghirup, lalu mengeluarkan semua kotoran mereka. Ini lebih baik dilakukan di kamar mandi, bukan di masjid. Kalian hanya bisa masuk ke masjid setelah melakukan wudhu! Tidak ada satu pun yang dapat membersihkan kalian kecuali dengan wudhu. Kami membantah apa yang mereka katakan. Mereka yang mengaku Sufi itu bukan Sufi sejati tetapi sesungguhnya menentang sufisme, dan merekalah yang memberi citra buruk kepada sufisme.

Wa min Allah at Tawfiq, al-Fatihah.

Kalam Awliya



Armageddon Akan Datang
Mawlana Syaikh Muhammad Adil ar-Rabbani qs
Lefke Cyprus - 22 July 2016

Bismillahir Rahmanir Rahim

Hari ini kami mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang besar, dan hari Selasa malam kemarin ada fitnah yang besar terjadi di Turki. Apakah itu? Seperti yang kami katakan bahwa kita berada di Akhir Zaman, dimana di akhir zaman pasti akan terjadi Armageddon. Hal ini telah diketahui oleh setiap umat para Nabi (as).

Akan ada Perang Dunia Terbesar, yaitu Armageddon. Peperangan ini dimulai dari perang-perang kecil diberbagai negara. Saat ini Armageddon masih belum terjadi, tetapi semua orang mengetahui bahwa akan terjadi. Negara yang merasa pintar telah menyulut perang-perang kecil diberbagai negara yang jauh dari negara mereka. Mereka berpikir jika  perang ini terjadi di negara yang jauh dari negara mereka maka mereka akan selamat. Oleh sebab itu mereka membuat perang-perang kecil ini berbagai negara yang jauh dari negara mereka.

Perang kecil seperti ini telah dimulai 5 tahun yang lalu di berbagai negara di jazirah Arab, Afrika dan minggu kemarin mereka mencoba membuat perang saudara ini terjadi di Turki. Apa yang mereka kerjakan adalah sesuatu yang buruk dengan membunuh orang yang tak bersalah. Kita melihat pasukan tank, helikopter menembaki orang-orang dan mencoba membunuh Presiden yang akan menyulut Armageddon. Tetapi atas Kehendak Allah maka perang besar ini belum terjadi saat ini. Mengapa tertunda, karena sampai saat ini belum ada Sultan bagi seluruh umat Islam untuk memimpin perang bagi seluruh umat Islam.

Dikatakan bahwa Sultan Islam akan mengambil amanah Nabi (saw), pedang Nabi (saw), bendera Nabi (saw) yang ada di Istanbul  akan diberikan kepada Sayidina Mahdi as sebagai Sultan Islam. Hari ini kita melihat gerakan untuk mewujudkan Armagedon makin membesar dan semua orang yang tidak beriman tidak akan selamat dari Perang Besar Armageddon.

Kita merasa bahagia karena Nabi (saw) mengatakan bahwa  dalam Perang Armagedon, Umat Islam akan memang. Armageddon akan terjadi dan dimulai setelah Ramadan dibulan Syawal, oleh sebab itu bulan Syawal merupakan bulan yang berat dimana akan terjadi begitu banyak kejadian mengerikan yang akan menyulut perang besar. Setelah perang ini terjadi maka Sayidina Mahdi (as) akan datang memimpin Umat islam dan akan membersihkan kekotoran, ketidak adilan, kezaliman dan keburukan didunia ini. Apakah kekotoran itu? Yaitu orang-orang yang tidak beriman akan dibersihkan.

Mereka yang beriman tidak akan tercebur ke lubang yang sama dua kali, tetapi hari ini umat Islam mengalami begitu banyak kezaliman yang menimpa mereka sejak ratusan tahun yang lalu. Dan ketika Imam Mahdi (as) datang maka segala kekotoran dan kezaliman akan dibersihkan dan mereka yang tidak beriman tidak akan bisa mengelak dari hukuman Allah. Tanda-tanda besar Kiamat akan didahului dengan Perang Besar Armageddon dan Imam Mahdi as akan datang.

Dimasanya hanya ada satu mazhab dan hanya ada satu tariqat. Kami berterimakasih kepada Allah karena ada yang akan memimpin umat Islam. Hari ini kita melihat, bagaimana keadaan umat Islam, keadaan rakyat disuatu negara akan tergantung keadaan pemimpinmu. Jika rakyatnya baik maka akan mendapatkan pemimpin yang baik dan sebaliknya. Alhamdulillah yang memimpin kita sekarang adalah seorang muslim dan mereka menghidupkan solat, puasa, haji, zakat diberbagai masjid, maka mereka yang memerangi pemimpin seperti ini artinya mereka melawan Sultan.

Hari ini ada banyak fitnah terjadi dimana-mana sehingga semua orang menjadi bingung siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang harus diikuti dan apa yang harus dilakukan. Jika seseorang yang jahil berbicara kepadamu tantang hal ini maka jangan dengarkan orang-orang jahil ini. Jangan dengarkan versi mereka dan kata-kata mereka.

Dengarkan semua nasehat dan kata-kata Mawlana. Karena kalian tidak pernah tahu apa yang mereka perbuat. Mereka bisa berbuat apapun dan kalian tidak bisa membayangkan keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan rencanakan, maka jangan dengarkan mereka dan berhati-hatilah terhadap orang yang jahil ini.

Kita tidak tahu kapan terjadinya Armagedon, mungkin tahun depan atau 2 tahun lagi, semua terserah Allah dan kita tidak mengetahuinya. Ketika Imam Mahdi (as) datang dan membersihkan dunia ini dari kekotoran maka kita akan menjadi orang yang beruntung dan bahagia, sedangkan mereka yang mati Syahid dalam peperangan akan masuk surga.

Mereka yang hidup akan merasakan kebahagiaan karena dapat merasakan Zaman Keemasan Islam. Jangan ikuti orang para diktaktor dan jangan bersama dengan orang yang zalim. Ikuti orang-orang yang baik dan jangan mau ditipu oleh setan dan pengikutnya. Semoga Allah menyelamatkan kita untuk dapat bersama Sayidina Mahdi (as).

Wa min Allah at-Tawfiq, al-Fatihah.

Kalam Awliya




" TENTANG TAWASUL "

Memang banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.

Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu).

Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits.., apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih.

Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.”, jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..?. maka hujanpun turun.
(Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).

Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi.., pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid..

Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.., yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.

Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.

Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : “Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga dekat fulan, nah.. bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati..?,
bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat...??,
Jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup..?, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni..?? dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.

aduh…aduh… entah apa yang membuat pemikiran mereka sempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini. Firman Allah : “MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI PADA KEBENARAN” (QS Albaqarah-18).

Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak mengetahui.

Wassalam....

*Oleh :Habibana Munzir Bin Fuad Al Musawa*